Pada Sabtu, 14 September 2024, Anggota Muda ke-43 Mahacita UPI melanjutkan tradisi dalam kegiatannya yang tidak jauh dengan kepetualangan dan kepencinta alaman yang berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan kali ini dilakukan di MI Baitul Ghofur serta MTs/MA Al-Huda, yang terletak di Kampung Cilember, Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Proyek sosial ini bertujuan untuk memberikan pendidikan, donasi buku, dan beberapa alat penunjang belajar, serta menyampaikan materi tentang literasi dan lingkungan.
MI Baitul Ghofur dan MTs/MA Al–Huda yang kami datangi ini ternyata sudah berdiri sejak tahun 2015 atas inisiasi pengelola sekaligus kepala yayasan, Pak Darwin. Seiring berjalannya waktu, sudah banyak fasilitas yang diperbaharui. Saat ini, MI Baitul Ghofur memiliki dua ruang kelas yang menampung 30 siswa, sementara MTs/MA memiliki sekitar 25 siswa. Meskipun demikian, semangat belajar siswa tetap tinggi, seperti yang terlihat dalam aktivitas sehari-hari mereka.
Dalam proyek sosial ini, Anggota Muda Mahacita UPI memberikan materi berupa motivasi minat baca, pentingnya pendidikan, pengelolaan sampah, serta pendidikan kebangsaan. Untuk siswa MTs/MA, tambahan materi tentang pernikahan dini juga disampaikan, mengingat banyaknya pernikahan dini yang terjadi di sana.


Siswa-siswi MI Baitul Ghofur dan MTs/MA Al-Huda dalam pematerian Motivasi Minat Baca (14/9 2024)
Pembelajaran literasi dilakukan dengan metode yang interaktif. Dalam pengajaran di kelas MI, tim pengajar membagi para siswa ke dalam beberapa kelompok, di mana siswa dilatih untuk membaca cerita singkat, menyimpulkan, dan mempresentasikan hasil bacaan mereka.
Dalam pengajaran motivasi minat baca di kelas MI dapat kami simpulkan bahwa keinginan membaca dan belajar membaca mereka sangat tinggi. Keahlian atau kemampuan siswa kelas rendah di MI Baitul Ghofur terbilang masih kurang. Berbeda dengan siswa kelas tinggi, beberapa dari mereka ada yang baru bisa membaca, masih terbata-bata dalam membaca, dan sudah lancar membaca. Namun, antusias dan minat baca mereka sangat terlihat ketika kami membagikan secarik kertas bertuliskan cerita.
Dalam upaya meningkatkan minat literasi dan kesadaran lingkungan, kami mengadakan program pembelajaran di MI Baitul Ghofur dan MTs/MA Al-Huda. Respon yang positif dari para murid menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap materi yang disampaikan. Dengan membagikan bahan bacaan, siswa dilatih untuk menyimpulkan dan mempresentasikan hasil bacaan mereka di depan teman-teman, yang membuktikan peningkatan kemampuan literasi mereka.
Selain itu, proyek sosial yang kami lakukan juga menyoroti pentingnya pendidikan, terutama di kalangan anak-anak yang menghadapi tantangan ekonomi. Diskusi mengenai cita-cita dan harapan di masa depan diadakan untuk mengedukasi mereka tentang resiko pernikahan dini, baik fisik maupun mental. Melalui inisiatif ini, diharapkan anak-anak dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap isu-isu penting di sekitar mereka.


Pengajaran Pengelolaan Sampah dan Persiapan barang donasi Anggota Muda Mahacita (14/9 2024)
Selain literasi, topik penting lainnya yang diajarkan adalah pengelolaan sampah. Para siswa diperkenalkan pada cara memilah sampah organik, anorganik, dan berbahaya (B3). Melalui permainan interaktif, siswa belajar membedakan jenis-jenis sampah dan cara mengolah sampah organik menjadi kompos. Antusiasme mereka terlihat jelas saat mereka terlibat dalam aksi bersih sampah dan bermain dalam pembagian jenis sampah.
Meski baru pertama kali dikenalkan dengan konsep ini, siswa MI dengan cepat memahami materi yang disampaikan. Mereka diajak untuk terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan mempraktekkan pengelolaan sampah di kehidupan sehari-hari.
Tiba di sore hari, agenda kami selanjutnya adalah menyiapkan barang-barang donasi yang sudah kami bawa. Barang donasi berupa, 317 buku yang terdiri dari berbagai kategori, mulai dari buku umum hingga yang khusus untuk siswa MI, MTs, dan MA, rak buku, dan ATK. Dengan persetujuan kepala yayasan pun kami sedikit mendekorasi kelas dengan hiasan-hiasan yang sudah kami buat dan menjadikan pojok kelas menjadi pojok literasi.
Pojok literasi didirikan di kelas sebagai ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi minat mereka dalam membaca.
TABEL DONASI
| No | Donasi | Jumlah |
| 1 | ATK | 195 |
| 2 | Rak buku | 2 |
| Jumlah | 197 | |
| No | Donasi | Jumlah |
| 1 | Buku umum | 103 |
| 2 | Buku jenjang SD/MI | 67 |
| 3 | Buku jenjang SMP/MTs | 93 |
| 4 | Buku jenjang SMA/MA | 54 |
| Jumlah | 317 | |


Senam pagi dan upacara Anggota Muda Mahacita UPI bersama Kepala Yayasan MI Baitul Ghofur dan MTs/MA Al-Huda, serta beberapa pengelola madrasah, dan seluruh siswa/siswi MI, MTs, dan MA (15/9 2024)
Pada hari kedua kegiatan, Minggu, 15 September 2024, kami mengawali kegiatan dengan mengadakan senam pagi bersama para siswa, diikuti dengan materi pendidikan kebangsaan. Siswa dilatih untuk melakukan upacara bendera, mulai dari tata cara pengibaran bendera, pembacaan UUD 1945, hingga menyanyikan lagu kebangsaan. Ini adalah salah satu upaya kami membentuk kebiasaan baik di kalangan siswa, mengingat mereka jarang melakukan upacara sebelumnya, karena baru tersedianya lapangan di halaman sekolah serta alat dan bahan upacara.
Selesainya latihan dan semua sudah siap untuk melakukan upacara, kami pun memulai upacara bendera di siang hari bersama Pak Darwin, selaku Kepala Yayasan MI Baitul Ghofur dan MTs, MA Al-Huda, serta beberapa pengelola madrasah yang merupakan keluarga dari Pak Darwin.
Setelah melakukan upacara bendera, kami menutup kegiatan dengan penyerahan donasi berupa buku-buku bacaan, rak buku, dan alat tulis, serta pemberian hadiah untuk para siswa. Kegiatan ditutup dengan penyampaian kata dari Kepala Yayasan, Pak Darwin dan perwakilan Anggota Muda Mahacita yang menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang telah dilakukan.

Pendakian Gunung Gede : Penelitian dan Edukasi Lingkungan
Proyek sosial yang dilakukan Anggota Muda Mahacita ke-43 ini bukanlah satu-satunya yang dilakukan dalam kegiatan. Pada Sabtu, 21 September 2024, Anggota Muda Mahacita melanjutkan kegiatan yang berfokus tentang lingkungan dengan mendaki Gunung Gede via jalur Putri. Selain bertujuan untuk petualangan, kegiatan ini juga dilakukan untuk meneliti kesadaran para pendaki mengenai pengelolaan sampah di gunung, baik itu sampah yang sudah ada di Gunung Gede, ataupun sampah yang dihasilkan dari pendaki itu sendiri.
Kami memulai pendakian di Gunung Gede via Putri pada pukul 07.00 pagi, dengan durasi waktu sekitar 7 jam, kami pun tiba di Surya Kencana pada pukul 14.00 siang. Selama pendakian, kami melihat betul dan merasakan keresahan langsung dari apa yang sudah kami cari di beberapa media internet mengenai sampah yang tersebar di tiap pos dan sekitar jalur pendakian, bahwa memang banyak tersebarnya sampah yang ada seperti bekas bungkus permen, bungkus camilan, dan botol plastik bekas minum.
Setibanya kami di area camp Surya Kencana, kami membagi tugas untuk mendirikan tenda, dan ada yang melakukan pencarian data wawancara. Terik panasnya Surya Kencana yang terus diikuti angin sepoi-sepoi, tidak membuat kami terasa bahwa waktu semakin sore. Dengan melakukan wawancara kepada pengelola dan beberapa pendaki Gunung Gede, kami mendapati jawaban-jawaban dari keresahan dan pertanyaan-pertanyaan kami.

“Kalau sampah dari bawah sih ada di beberapa titik, tapi nggak begitu parah, yang agak parah setelah sampai di tempat camp gini ya, banyak sih.” Ucap Susanto, salah satu pendaki Gunung Gede. Sampah-sampah yang menumpuk di beberapa titik area camp pastinya merupakan sampah-sampah yang dihasilkan dari logistik yang dibawa oleh para pendaki. Tidak hanya mengganggu keindahan alam, tentu menjadi salah satu nilai negatif untuk kelestarian flora dan fauna yang ada.
Kami pun menanyakan terkait logistik yang dibawa dan bagaimana pendaki tersebut mengelolanya. Dari para pendaki yang kami wawancarai, semua bersuara bahwa memang logistik yang dibawa tidak lepas dari barang-barang yang bisa menghasilkan sampah plastik. Namun, hanya beberapa yang melakukan pemilahan sampah sebagai tindakan pengelolaan sampahnya.
Beberapa pendaki mengakui bahwa kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah masih rendah. Meskipun sebagian pendaki sudah mulai memilah sampah, banyak yang masih mencampur sampah organik dan anorganik. Kurangnya fasilitas pengelolaan sampah di jalur pendakian juga menjadi salah satu masalah yang sering dikeluhkan.
“Saya juga masih termasuk pendaki yang kurang sadar, seringkali saya mencampur sampah organik dan anorganik,” jelas Ikas. Hal ini menjadi perhatian penting bagi semua orang, terutama bagi pendaki, karena sampah dapat mengganggu kelestarian alam, flora, dan fauna, terutama di taman nasional gunung.
Selain itu, banyaknya sampah yang tersebar di jalur pendakian maupun area camping sering kali disebabkan oleh kurangnya fasilitas yang memadai di kawasan tersebut. Pendaki berpendapat bahwa pengelola harus mengkampanyekan regulasi terkait permasalahan sampah dengan lebih tegas, untuk membangun kesadaran. “Sayang sekali alam yang begitu indah ini jika dibiarkan. Budaya yang tidak baik akan merusak keindahan itu,” tambah mereka.
Rangkuman kegiatan yang dilakukan oleh Anggota Muda Mahacita UPI tidak hanya berfokus pada literasi dan pendidikan, tetapi juga melakukan penelitian mengenai wawasan terutama pendaki tentang kesadaran mengenai pengelolaan sampah selama pendakian. Melalui program sosial ini, Anggota Muda Mahacita berharap dapat meningkatkan kesadaran literasi dan lingkungan, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat di Kampung Cilember dan para pendaki Gunung Gede.
